Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gurindam | Pengertian, Ciri, Jenis, Fungsi dan Contoh

Belajar Gurindam – Sobat masih ingat dengan karya sastra puisi  Indonesia? Tentu Anda sudah sering mendengar tentang puisi. Ternyata  puisi terbagi dua lho. Puisi lama dan puisi baru. Puisi lama meliputi Syair, Gurindam dan puisi. Namun disini kami akan membahas Gurindam secara detail. Mulai dari pengertian gurindam, ciri-ciri, jenis, fungsi dan contoh lengkapnya. Mari kita bicarakan hal ini! 

#Definisi Gurindam 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Gurindam pada umumnya berupa puisi dua baris yang berisi nasehat tentang kehidupan. Karya Gurindam merupakan nasehat kepada sesama  agar mengamalkan kebaikan. 

Berikut adalah pengertian gurindam yang di definisikan oleh beberapa para ahli, simak selengkapnya:

1. Raja Ali Haji (1989) 

Gurindam adalah Suatu bentuk puisi Melayu yang terdiri dari dua baris  berpasangan, berima atau berrsajak, dan memberikan gagasan lengkap atau sempurna berpasangan. Dalam kasus seperti ini, baris pertama dapat dianggap sebagai suatu kondisi atau syarat (protasis) dan baris kedua sebagai reaksi atau jawab (apodosis).

2.Ismail Hamid (1989) 

Gurindam berasal dari kata Sansekerta Kirindam yang berarti perumpamaan. Gurindam ini berkembang pada masyarakat Melayu dan mempunyai bentuk naskah teks tersendiri.

3. Sutan Takdir Alisjahbana 

Gurindam adalah kalimat majemuk yang terbagi menjadi dua baris berima. Setiap baris merupakan kalimat sambung, terdiri dari anak kalimat serta induk kalimat, dengan jumlah suku kata per baris yang tidak terbatas. 

4. Harun Mat Piah 

Gurindam merupakan puisi Melayu kuno, yang mempunyai bentuk yang berkaitan dan tidak berkaitan. Bentuk terikat terdiri dari dua baris bersambung dan berisi tiga sampai enam kata dengan rima a-a.

5. Masruchin (2017) 

Suatu karya sastra kuno berbentuk puisi,  terdiri dari dua baris sajak atau rima yang sama. Gurindam sendiri mempunyai lebih dari satu bait, setiap bait mempunyai dua baris. 

Di baris depan merupakan syarat, persoalan, permasalahan dan perjanjian. Sedangkan baris kedua merupakan respon terhadap permasalahan atau kejadian yang terjadi pada baris pertama. 

#Ciri-Ciri Gurindam 

Sebagai sebuah bentuk karya sastra, Gurindam tentu mempunyai ciri khas tersendiri. Ciri khas yang tidak terdapat pada  karya sastra genre lainnya. Berikut  beberapa ciri  karya sastra Melayu klasik Gurindam. 

1. Berisi dua baris 

Ciri khusus karya sastra Gurindam adalah struktur teksnya. Teks pada Gurindam hanya terdiri dari dua baris. Tidak lebih dari dua baris. Kekhasan inilah yang membedakan Gurindam dengan puisi baru yang lebih dari dua baris. 

2. Struktur pernyataan yang mempunyai konsekuensi

Ciri yang lebih kentara dan mendalam adalah  struktur teks Gurindam. Struktur Gurindam dibangun dari dua konsep. 

Konsep Gurindam yang pertama berisi pernyataan apakah itu suatu peristiwa, kasus, dan sebagainya. Misalnya, pada  baris pertama Gurindam ini, “ilmu tidak boleh hanya dihafalkan”. Mari kita lihat konsep baris pertama Gurindam yang mempunyai konsep pernyataan tentang suatu kasus. 

Hal ini terjadi dimana banyak orang yang mempunyai ilmu namun tidak mengaplikasikannya dalam praktek. Penciptanya ingin merekam orang-orang yang hanya berilmu tanpa ada amalan apa pun. Kemudian lanjutkan dengan konsekuensinya pada baris kedua. “tetapi juga perlu diamalkan.” 

3. Bunyi akhir kalimatnya sama 

Karya sastra Gurindam sebagaimana telah dijelaskan di atas mempunyai ciri khas tersendiri. Konsonan dalam teks Gurindam pun sama. Artinya, jika konsonan “A” ada di baris pertama, maka  baris kedua juga. 

Rima dalam Gurindam selalu diakhiri dengan a-a, b-b, c-c, d-d, e-e, dan seterusnya. Jika tidak, berarti tidak dapat digolongkan sebagai karya sastra Gurindam Melayu.

4. Nasehat bijak

Salah satu keistimewaan Gurindam yang paling mendalam  adalah di dalamnya terdapat ajaran tentang kehidupan. Nasehat bijak untuk sesama dalam berbuat kebaikan selama hidup di dunia. 

Berbeda dengan puisi baru, karya sastra dapat mempunyai tema yang sama. Karya sastra Gurindam hanya dapat ditemukan dalam bentuk petuah-petuah hidup yang sebagian besar dipengaruhi oleh agama.  

5. Setiap baris dipisahkan 

Yang unik dari karya sastra kuno ini adalah setiap ayatnya hanya terdiri dari 2 sampai 6 kata. Kata singkat inilah yang menjadi alasan mengapa Gurindam tergolong karya sastra yang mengandung ajaran tentang hidup mulia. Namun, ada juga Gurindam yang memiliki tema yang sama.

#Jenis Gurindam 

Karya sastra puisi kuno Gurindam memiliki dua genre yang harus diketahui oleh sahabat gurummapel.com semua, yaitu Gurindam berkait dan Gurindam berangkai. Agar Anda tidak bingung membedakannya, yuk simak satu per satu penjelasan dari masing - masing gurindam ini. 

a. Gurindam berkait

Gurindam jenis pertama ini memiliki teks yang berkaitan antara baris satu dan dua. Begitu pula dengan baris yang baru dan selanjutnya terus dihubungkan. 

b. Gurindam berangkai

Berbeda dengan Gurindam terkait, Gurindam berangkai mempunyai kata yang sama setiap dua baris. Jadi, selain  konsonan yang mirip, kata pertama juga punya kemiripan.

#Fungsi / Manfaat Gurindam 

Karya sastra Gurindam diciptakan secara khusus dan mendalam, tentu mempunyai fungsi. Tentu saja fungsinya untuk membawa kepada kebaikan dan menghindari  keburukan. Siapa pun yang membaca karya sastra Gurindam akan memperoleh fungsi  intelektual dari kata - kata yang disusun tidak lebih dari enam kata ini. 

1. Mendidik jiwa 

Keaslian sebuah karya sastra yang dibarengi dengan penghayatan terhadap kehidupan, otomatis  mendidik jiwa pencipta dan pembacanya. Gurindam terutama dalam bentuk penyuluhan agama dapat digunakan untuk mendidik aspek psikologi manusia.  

2. Hiburan untuk semua orang 

Sebagai sebuah karya ciptaan manusia, selain membantu mencerdaskan pikiran manusia, Gurindam juga bisa digunakan untuk hiburan lho. Tema-tema Gurindam yang berlatarkan konteks “cinta” seringkali menghadirkan hiburan yang luar biasa bagi pembacanya. Karena dari situ kita melihat betapa keterlaluan dan konyolnya orang yang sedang jatuh cinta. 

3. Merekam kondisi sosial budaya masyarakat

Kreativitas para sastrawan Gurindam yang mampu merekam kondisi sosial masyarakat menjadikan karya sastra kuno ini efektif dalam mengamati kondisi sosial budaya masyarakat. Gurindam mampu mencatat semua kejadian dalam beberapa kalimat pendek. 

4. Dakwah agama 

Keberadaan karya sastra Gurindam pada akhirnya memudahkan penyebaran ajaran agama oleh para misionaris. Agama apapun mempunyai tujuan agar masyarakatnya berbuat baik dan selalu menjauhi keburukan. Faktanya, banyak karya sastra Gurindam yang mengandung nilai-nilai pendidikan luhur agama Islam dan budaya bangsa. Karena Gurindam sengyoun berasal dari budaya melayu yang dekat dengan agama. 

# Contoh Gurindam 

Selanjutnya kita akan membahas contoh Gurindam yang  dibuat oleh para penulis. Salah satu karya sastra puisi kuno Gurindam yang terkenal adalah milik Raja Ali Haji. Karya sastra puisi kuno Raja Ali Haji terdiri dari 12 bab. Berikut ini contohnya.

Gurindam Dua Belas

(Karya :  Raja Ali Haji)

Pasal 1:

Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang yang ma’rifat.
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah Ia dunia mudarat.

Pasal 2:

Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

Pasal 3:

Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadaiah damping.
Apabila terpelihara lidah,
niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi’il yang tiada senunuh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat.
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjaian yang membawa rugi.

Pasal 4:

Hail kerajaan di dalam tubuh,
jikalau lalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

Pasal 5:

Jika hendak mengenai orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Pasal 6:

Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi.

Pasal 7:

Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah landa hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
I’ika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

Pasal 8:

Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebalikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

Pasal 9:

Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat.
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

Pasal 10:

Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.

Pasal 11:

Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat.
Hendak marah, dahulukan hajat.
Hendak dimulai, jangan melalui.
Hendak ramai, murahkan perangai.

Pasal 12:

Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh anayat.
Kasihan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.

***